Rabu, 27 April 2016

Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental (4)

Nama Anggota          :           DEBBY SANDRA                                        (12514599)
DESTIJANI DWI PUTRIANDINI             (12514784)
FARAH MALANDA                                   (13514936)
FEBRIANA RAMADHANTI                     (14514115)
SALSABILA PAHALA FIJANNATI       (19514959)
Kelas                           :           2PA08


ANALISIS JURNAL
“HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DENGAN TINGKAT KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA LAPANGAN BAGIAN PRODUKSI
PT. J RESOURCES BOLAANG MONGONDOW”

Salah satu hambatan yang berhubungan dengan produktivitas karyawan di suatu perusahaan atau organisasi adalah kelelahan kerja. Kelelahan kerja dapat menimbulkan beberapa keadaan yaitu prestasi kerja yang menurun, fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun, badan terasa tidak enak disamping semangat kerja yang menurun. Selain itu, masalah-masalah sosial kejiwaan di tempat kerja seperti stres ada hubungannya dengan masalah-masalah kesehatan yang serius, termasuk penyakit-penyakit jantung, stroke, kanker yang ditimbulkan oleh masalah hormon, dan sejumlah masalah kesehatan mental.
Untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan tingkat kelelahan kerja pada pekerja lapangan bagian produksi di PT. J Resources Bolaang Mongondow dengan jumlah sampel 145 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa sesudah bekerja, 53,1% pekerja lapangan bagian produksi mengalami tingkat kelelahan ringan dan 46,9% pekerja yang mengalami tingkat kelelahan sedang. Sedangkan untuk stres kerja, 66,2% pekerja lapangan bagian produksi tidak mengalami stres kerja dan 33,8% pekerja yang mengalami stres kerja. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara stres kerja dengan tingkat kelelahan kerja pada pekerja lapangan bagian produksi di PT. J Resources Bolaang Mongondow (p=0,383).
Pada survei ini juga dinyatakan bahwa pekerja laki-laki kehilangan kira-kira 50,8 hari kerja pada setiap tuntutan hak asuransi, sedangkan pekerja wanita kehilangan kira-kira 58,5 hari kerja. Dengan demikian harus diakui bahwa stres akibat kerja merupakan masalah kesehatan kerja yang penting, yang akan menyebabkan penurunan produktikvitas kerja secara bermakna (Harrianto, 2009).

Analisis :
Berdasarkan kilasan jurnal diatas, kami akan menganalisis berdasarkan teori-teori yang ada.Menurut Lazarus & Folkman (1986) stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Stres juga adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis ( Chapplin, 1999). Stres juga diterangkan sebagai suatu istilah yang digunakan dalam ilmu perilaku dan ilmu alam untuk mengindikasikan situasi atau kondisi fisik, biologis dan psikologis organisme yang memberikan tekanan kepada organisme itu sehingga ia berada diatas ambang batas kekuatan adaptifnya. (McGrath, dan Wedford dalam Arend dkk, 1997).
Menurut Lazarus & Folkman (1986) stres memiliki memiliki tiga bentuk yaitu:
1.  Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stress atau disebut juga dengan stressor. Seperti banyaknya pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dengan cepat dan terus mendapatkan tekanan dari atasan.
2.  Respon, yaitu stres yang merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara psikologis, seperti: jantung berdebar, gemetar, pusing, serta respon psikologis seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah tersinggung.
3. Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu proses dimana individu secara aktif dapat mempengaruhi dampak stres melalui strategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi.

Penyebab Stres atau Stressor
Stressor adalah faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan terjadinya respon stres. Stressor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, maupun sosial dan juga muncul pada situasi kerja, dirumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan luar lainnya. Istilah stressor diperkenalkan pertama kali oleh Selye (dalam Rice, 2002). Menurut Lazarus & Folkman (1986) stressor dapat berwujud atau berbentuk fisik (seperti polusi udara) dan dapat juga berkaitan dengan lingkungan sosial (seperti interaksi sosial). Pikiran dan perasaan individu sendiri yang dianggap sebagai suatu ancaman baik yang nyata maupun imajinasi dapat juga menjadi stressor.
Menurut Lazarus & Cohen (1977), kejadian yang dapat menyebabkan stres yaitu:
·         Daily hassles yaitu kejadian kecil yang terjadi berulang-ulang setiap hari seperti masalah kerja di kantor, sekolah dan sebagainya.
·         Personal stressor yaitu ancaman atau gangguan yang lebih kuat atau kehilangan besar terhadap sesuatu yang terjadi pada level individual seperti kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, masalah keuangan dan masalah pribadi lainnya.
Reaksi terhadap Stres
a.    Aspek Fisiologis
Walter Canon (dalam sarafino, 2006) memberikan deskripsi mengenai bagaimana reaksi tubuh terhadap suatu peristiwa yang mengancam. Ia menyebutkan reaksi tersebut sebagai fight-or-fight response karena respon fisiologis mempersiapkan individu untuk menghadapi atau menghindari situasi yang mengancam tersebut. Fight-or-fight response menyebabkan individu dapat berespon dengan cepat terhadap situasi yang mengancam. Akan tetapi bila arousal yang tinggi terus menerus muncul dapat membahayakan kesehatan individu.
Selye (dalam Sarafino, 2006) mempelajari akibat yang diperoleh bila stressor terus menerus muncul. Ia mengembangkan istilah General Adaptation Syndrome (GAS) yang terdiri atas rangkaian tahapan reaksi fisiologis terhadap stressor yang mempengerahuri stress kerja seperti apa yang ada dalam jurnal ini yaitu:
Ø  Fase Keletihan ( Stage of Exhaustion ) Fase disaat orang sudah tak mampu lagi melakukan perlawanan. Akibat yang parah bila seseorang sampai pada fase ini adalah penyakit yang dapat menyerang bagian – bagian tubuh yang lemah. Seperti halnya sesorang yang stress akibat waktu kerja yang memakan waktu hingga larut malam mengakibatkan seseorang menjadi lelah dan tidak dapat melakukan perlawanan.

b.  Aspek psikologis
Reaksi psikologis terhadap stressor meliputi:
1.    Kognisi.Cohen menyatakan bahwa stres dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktifitas kognitif.
2.    Emosi cenderung terkait stres.individu sering menggunakan keadaan emosionalnya untuk mengevaluasi stres dan pengalaman emosional (Maslach, Schachter & Singer, dalam Sarafino, 2006). Reaksi emosional terhadap stres yaitu rasa takut, phobia, kecemasan, depresi, perasaan sedih dan marah.
3.   Perilaku Sosial.Stres dapat mengubah perilaku individu terhadap orang lain. Individu dapat berperilaku menjadi positif dan negatif (dalam Sarafino, 2006). Stres yang diikuti dengan rasa marah menyebabkan perilaku sosial negatif cenderung meningkat sehingga dapat menimbulkan perilaku agresif (Donnerstein & Wilson, dalam Sarafino, 2006). 
Berdasarkan jurnal dan teori diatas dapat kami simpulkan bahwa stress hanya mempengaruhi sebagian kecil terhadap kelelahan kerja. Karna stress kerja lebih terpengaruh terhadap faktor psikologi individu bukan terhadap faktor fisologisnya. Seperti tekanan yang membuat tidak nyaman ditempat kerja. Stress kerja memang sering dialami oleh para pekerja baik laki-laki ataupun perempuan.Stress kerja yang mempengaruhi kelelahan hanya seperti lamanya waktu kerja bukan karna stress akibat tekanan pekerjaan itu sendiri.

Selasa, 12 April 2016

Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental (3.4)

Nama              :           Salsabila Pahala Fijannati
NPM               :           19514959
Kelas               :           2PA08
Mata Kuliah  :           Kesehatan Mental



Abraham Maslow

Konsep Sehat
Orang yang Mengaktualisasikan Diri
Kita didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal yang dibawa sejak lahir, yang tersusun dalam suatu tingkat, dari yang paling kuat sampai kepada yang paling lemah. Kita dapat berpikir tentang tingkat kebutuhan-kebutuhan diri Maslow seperti suatu tangga; kita harus meletakkan kaki pada anak tangga pertama sebelum berusahamencapai anak tangga kedua, dan seterusnya. Dengan cara yang sama juga, kebutuhan yang paling rendah dan paling kuat harus dipuaskan sebelum muncul kebutuhan tingkat kedua dan seterusnya naik tingkat sampai muncul kebutuhan kelima dan yang paling tinggi, aktualisasi diri.
Jadi, prasyarat untuk mencapai aktualisasi-aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah:
1.         Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
2.         Kebutuhan akan rasa aman
3.         Kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta
4.         Kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan
Kebutuhan-kebutuhan ini harus sekurang-kurangnya sebagiannya dipuaskan dalam urutan ini, sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.


Konsep Pribadi yang Sehat
1.         Kebutuhan Fisiologis
Merupakan kebutuhan yang terkuat dari semua kebutuhan. Apabila suatu kebutuhan yang dipuaskan tidak lagi merupakan kebutuhan, maka kebutuhan-kebutuhan fisiologis memainkan suatu peranan yang minimal dalam kehidupan kita.
2.         Kebutuhan Rasa Aman
Maslow percaya bahwa kita semua membutuhkan sedikit banyak sesuatu yang bersifat rutin dan dapat diramalkan. Untuk pribadi yang sehat, kebutuhan akan rasa aman tidak berlebih-lebihan atau selalu mendesak.
3.         Kebutuhan Rasa Memiliki dan Cinta
Maslow percaya bahwa makin lama makin sulit memuaskan kebutuhan akan memiliki dan cinta karena mobilitas kita. Kebutuhan ini harus dipuaskan dan Maslow berpendapat bahwa kesulitan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut dewasa ini menjelaskan ketenaran yang luar biasa dari aktivitas-aktivitas kelompok seperti komune-komune, sensitivity groups, encounter sessions.
4.         Kebutuhan Rasa Penghargaan (Harga diri)
            Maslow membedakan menjadi dua macam kebutuhan penghargaan.
·   Penghargaan yang berasal dari luar, dapat berdasarkan reputasi, kekaguman, popularitas, prestise atau keberhasilan dalam masyarakat, semua sifat dari bagaimana orang-orang lain berpikir dan bereaksi terhadap kita.
·         Penghargaan yang berasal dari dalam, kita merasa yakin dan aman akan diri kita; kita merasa berharga dan adekuat (serasi, seimbang).
5.         Kebutuhan Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri dapat didefinisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan pengggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita. Kita harus menjadi seseorang yang sesuai dengan potensi diri kita.

Meskipun kebutuhan-kebutuhan dalam tingkat yang lebih rendah dipuaskan, kita merasa aman secara fisik dan emosional, mempunyai perasaan memiliki dan cinta serta merta bahwa diri kita adalah individu-individu yang berharga, namun kita akan merasa kecewa, tidak tenang dan tidak puas kalau kita gagal berusaha untuk memuaskan kebutuhan akan aktualisasi diri. Apabila terjadi demikian maka kita tidak akan berada dalam damai dengan diri kita dan tidak bisa dikatakan sehat secara psikologis.


Ciri-ciri Kepribadian
Maslow membicarakan sejumlah sifat khusus yang menggambarkan pengaktualisasi-pengaktualisasi diri.
1.         Mengamati Realitas Secara Efisien
Orang-orang yang sangat sehat mengamati objek-objek dan orang-orang di dunia sekitarnya secara objektif. Mereka tidak memandang dunia hanya sebagaimana mereka inginkan atau butuhkan, tetapi mereka melihatnya sebagaimana adanya. Maslow berpendapat bahwa pengaktualisasi-pengaktualisasi diri adalah hakim-hakim yang teliti terhadap orang lain, mampu menemukan dengan cepat penipuan dan ketidakjujuran.
2.         Penerimaan Umum atas Kodrat, Orang-orang Lain dan Diri Sendiri
3.         Spontanitas, Kesederhanaan, Kewajaran
4.         Fokus pada Masalah-masalah di Luar Diri Mereka
5.         Kebutuhan akan Privasi dan Independensi
6.         Berfungsi secara Otonom
7.         Apresiasi yang Senantiasa Segar
8.         Pengalaman-pengalaman Mistik atau “Puncak”
9.         Minat Sosial
10.       Hubungan Antarpribadi
11.       Struktur Watak Demokratis
12.       Perbedaan antara Sarana dan Tujuan, antara Baik dan Buruk
13.       Perasaan Humor yang Tidak Menimbulkan Permusuhan
14.       Kreativitas
15.       Resistensi terhadap Inkulturasi


Daftar Pustaka:
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental (3.3)

Nama              :           Salsabila Pahala Fijannati
NPM               :           19514959
Kelas               :           2PA08
Mata Kuliah  :           Kesehatan Mental


Erich Fromm

Konsep Sehat
Orang yang Produktif
Fromm menyebut kepribadian yang sehat: Orientasi Produktif, yakni suatu konsep yang serupa dengan kepribadian yang matang dari Allport, dan orang yang mengaktualisasikan diri dari Maslow. Dengan menggunakan kata “orientasi”, Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respon-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri.
Menjadi produktif berarti orang menggunakan semua tenaga dan potensinya. Orang-orang sehat menciptakan diri mereka dengan melahirkan semua potensi mereka, dengan menjadi semua menurut kesanggupan mereka, dengan memenuhi semua kapasitas mereka.
Orientasi produktif ialah suatu keadaan ideal atau tujuan perkembangan manusia dan belum pernah dicapai dalam masyarakat manapun.


Konsep Pribadi yang Sehat
Orang-orang yang sehat memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif. Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan.
1.         Hubungan
Fromm percaya bahwa pemuasan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang-orang lain ini sangat penting untuk kesehatan psikologis.

2.         Transendensi
Erat berhubungan dengan kebutuhan akan hubungan ialah kebutuhan manusia untuk mengatasi atau melebihi peranan-peranan pasif sebagai ciptaan. Fromm percaya bahwa dalam perbuatan menciptakan manusia mengatasi kodrat eksistensi yang pasif dan aksidental, dengan demikian mencapai suatu perasaan akan maksud dan kebebasan.
Destruktivitas dan kreativitas keduanya berakar secara mendalam pada kodrat manusia. Akan tetapi, kreativitas merupakan potensi utama dan menyebabkan kesehatan psikologis. Destruktivitas hanya menyebabkan penderitaan objek perusakan dan juga si perusak.

3.         Berakar
Hakikat dari kondisi manusia, kesepian dan tidak berarti, timbul dari pemutusan ikatan-ikatan utama dengan alam. Tanpa akar-akar ini orang tak berdaya, jelas merupakan kondisi yang amat berat. Akar-akar baru harus dibangun untuk mengganti ikatan-ikatan sebelumnya dengan alam. Cara yang ideal ialah membangun suatu perasaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, suatu perasaan keterlibatan, cinta, perhatian dan partisipasi dalam masyarakat.

4.         Perasaan Identitas
Manusia juga membutuhkan suatu perasaan identitas sebagai individu yang unik, suatu identitas yang menempatkannya terpisah dari orang-orang lain dalam hal perasaannya tentang dia, siapa dan apa. Cara yang sehat untuk memuaskan kebutuhan ini ialah individualitas, proses dimana seseorang mencapai suatu perasaan tertentu tentang identitas diri.

5.         Kerangka orientasi
Dasar yang ideal untuk kerangka orientasi adalah pikiran, yakni saran yang digunakan seseorang untuk mengembangkan suatu gambaran realistis dan objektif tentang dunia.


Ciri-ciri Kepribadian
Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang dimaksudkan Fromm dengan orientasi produktif.
1.         Cinta yang Produktif
Suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner-partner dapat memperthankan individualitas mereka.
2.         Pikiran yang Produktif
Meliputi kecerdasan, pertimbangan dan objektivitas. Pemikir produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran.
3.         Kebahagiaan
Merupakan suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif; kebahagiaan itu menyertai seluruh kegiatan produktif.
4.         Suara hati
Fromm membedakan dua tipe suara hati, yakni suara hati otoriter dan suara hati humanistis.
Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Suara hati otoriter ialah antitesis terhadap kehidupan produktif.
Suara hati humanistis ialah suara dari diri dan bukan dari suatu perantara dari luar.

Jadi, kepribadian yang sehat dan produktif memimpin dan mengatur diri sendiri.


Daftar Pustaka:
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Senin, 11 April 2016

Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental (3.2)

Nama              :           Salsabila Pahala Fijannati
NPM               :           19514959
Kelas               :           2PA08
Mata Kuliah  :           Kesehatan Mental


Carl Ransom Rogers

Konsep Sehat
Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Menurut Rogers syarat utama bagi timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan "penghargaan positif tanpa syarat" (Unconditional positif regard) pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila Ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih sayang yang diberikan dengan bebas ini, dan sikap yang ditampilkannya bagi anak itu menjadi sekumpulan norma dan standar yang diinternalisasikan. Anak-anak yang bertumbuh dengan perasaan Unconditional positive regard tidak akan mengembangkan syarat-syarat penghargaan mereka merasa diri berharga dalam semua syarat dan jika syarat-syarat penghargaan tidak ada maka tidak ada kebutuhan untuk bertingkah laku defensif tidak akan ada ketidakharmonisan antara diri dan persepsi terhadap kenyataan untuk orang yang demikian tidak ada pengalaman yang mengancam dia dapat mengambil bagian dalam kehidupan dengan bebas dan sepenuhnya diri adalah dalam dan luas karena diri itu mengandung semua pikiran dan perasaan yang mampu diungkapkan orang itu diri itu juga fleksibel dan terbuka kepada semua pengalaman baru tidak ada bagian dari diri dilumpuhkan atau terhambat dalam ungkapannya orang ini adalah bebas untuk menjadi orang yang mengaktualisasikan diri untuk mengembangkan seluruh potensinya dan segera setelah proses aktualisasi diri mulai berlangsung orang itu dapat maju ke tujuan terakhir yakni menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya.

Konsep Pribadi yang Sehat
Kepribadian yang sehat Itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses, "suatu arah bukan suatu tujuan".
Menurut Rogers orang-orang yang mengaktualisasikan diri, yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi di belakang topeng-topeng atau kedok-kedok, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunyikan sebagian diri mereka. Mereka bebas dari harapan-harapan dan rintangan-rintangan yang diletakkan oleh masyarakat mereka atau orang tua mereka; mereka telah mengatasi aturan-aturan ini. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri tidak agresif, memberontak secara terus terang atau dengan sengaja tidak konvensional dalam mencemoohkan aturan-aturan dari orang tua atau masyarakat. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat berfungsi sebagai individu-individu dalam sanksi-sanksi dan garis-garis pedoman yang jelas dari masyarakat.

Ciri-ciri Kepribadian
Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya:

1.         Keterbukaan pada Pengalaman
Keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Orang yang demikian mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya; tidak ada segi kepribadian tertutup. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru.
2.         Kehidupan Eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan. Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat.
3.         Kepercayaan Terhadap Organisme Sendiri
Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif. Karena orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman serta menghidupkan pengalaman-pengalaman itu sepenuhnya, maka individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi.
4.         Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya. Karena merasa bebas dan berkuasa ini maka orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukannya.
5.         Kreativitas
Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Rogers percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi-kondisi lingkungan.


Daftar Pustaka:
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental (3.1)

Nama              :           Salsabila Pahala Fijannati
NPM               :           19514959
Kelas               :           2PA08
Mata Kuliah  :           Kesehatan Mental


Gordon Willard Allport


Konsep Sehat
Orang yang Matang
Allport berpendapat bahwa kepribadian yang sehat tidak dibimbing oleh kekuatan-kekuatan tak sadar atau pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Menurut Allport, motif-motif seorang dewasa bukan perpanjangan atau perluasan motif-motif masa kanak-kanak. Motif-motif orang dewasa secara fungsional otonom terhadap masa kanak-kanak, yakni motif-motif itu tidak tergantung pada keadaan-keadaan asli, otonom sama seperti pohon yang sudah tumbuh dengan sempurna dari bijinya yang pernah memberinya makanan. Kita tidak didorong dari belakang oleh kekuatan-kekuatan pendorong dengan akar-akar pada masa lampau. Malahan kita didorong lebih dahulu oleh rencana-rencana atau intensi-intensi kita untuk masa depan.
Allport menunjukkan bahwa orang yang sehat ingin lebih banyak daripada reduksi tegangan hidup. Manusia yang sehat memiliki kebutuhan terus menerus akan variasi akan sensasi-sensasi dan tantangan-tantangan baru. Allport percaya bahwa hanya melalui pengalaman-pengalaman dan risiko-risiko yang menimbulkan tegangan baru ini manusia dapat bertumbuh.


Konsep Pribadi yang Sehat
Konsep "diri" (self) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian yang sehat. Baik kata maupun konsep tersebut tampaknya sederhana sampai kita mulai memeriksa bermacam-macam cara bagaimana ahli-ahli teori kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsinya.
Proprium menunjuk kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik.
Proprium itu berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat "diri". Apabila semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut dipersatukan dalam satu konsep proprium. Jadi proprium adalah susunan dari tujuh tingkat "diri" ini. Munculnya proprium merupakan suatu prasyarat untuk suatu kepribadian yang sehat.


Ciri-ciri Kepribadian
Tujuh kriteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat:
1.         Perluasan Perasaan Diri
Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan perhatia-perhatian di luar diri. Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang atau ide, maka semakin juga dia akan sehat secara psikologis. Diri menjadi tertanam dalam aktivitas-aktivitas ini menjadi perluasan perasaan diri.

2.         Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orangtua, anak, partner, teman akrab.
Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan-penderitaan, ketakutan-ketakutan, dan kegagalan-kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia.

3.         Keamanan Emosional
            Sifat dari kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas:
·         Kualitas utama adalah penerimaan diri
·         Mampu menerima emosi-emosi manusia
·         “Sabar terhadap kekecewaan”
Orang-orang yang matang tidak dapat begitu sabar terhadap kekecewaan, tidak dapat begitu menerima diri, atau tidak dapat begitu banyak mengontrol emosi mereka, jika mereka tidak merasakan suatu perasaan dasar akan kenyamanan.
Orang-orang yang sehat tidak bebas dari perasaan-perasaan tidak aman dan ketakutan-ketakutan, tetapi mereka merasa kurang terancam dan dapat menanggulangi perasaan-perasaan tersebut dengan lebih baik daripada orang-orang yang neurotis.

4.         Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.

5.         Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri di dalamnya. Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan menjadi neurotis. Akan tetapi tidak mungkin menemukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka pada pekerjaan mereka. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup.

6.         Pemahaman Diri
Kriterium ini terkandung dalam petunjuk lama “Kenallah dirimu”, tentu merupakan tugas yang sulit. Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki pemahaman diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.

7.         Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Orang-orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Allport menyebut dorongan yang mempersatukan ini “arah”, dan lebih kelihatan pada kepribadian-kepribadian yang sehat daripada orang-orang yang neurotis.  


Daftar Pustaka:
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.